Senin, 14 Mei 2012
LATIHAN DEGUNG UNTUK UPACARA PERPISAHAN
Minggu, 06 Februari 2011
BELAJAR BAHASA INGGRIS
GAYA BELAJAR
Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar ini
terbentuk dari lingkungan dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita
mengenal gaya belajar kita, maka kita bisa memilih strategi belajar yang
efektif, yang disesuaikan dengan gaya belajar kita masing-masing.
”Auditory learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar
dengan mendengarkan, maka kita memiliki gaya belajar ”auditory.” Jika
ini gaya belajar kita, maka kita bisa memperbanyak porsi belajar dengan
mendengarkan, misalnya mendengarkan kaset-kaset pelajaran bahasa
Inggris, lagu-lagu favorit kita, ataupun berita, pidato dalam bahasa
Inggris. Kita juga bisa mendengarkan percakapan-percakapan dalam
bahasa Inggris di film-film favorit yang kita tonton di bioskop, televisi,
ataupun VCD. Dengarkan ucapan, ungkapan yang digunakan, perhatikan
konteks ataupun situasi di mana kata-kata ataupun ungkapan tersebut
digunakan. Lakukan hal ini berulang-ulang maka kita akan bertemu
dengan ungkapan serupa yang dapat kita latih secara berkala, sehingga
kita bisa makin mahir mengucapkan dan menggunakannya.
”Visual learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar
melalui input visual (gambar, tulisan), maka kita memiliki gaya belajar
”visual”. Banyak sekali strategi yang bisa kita lakukan. Kita bisa membaca
artikel-artikel dalam bahasa Inggris yang kita anggap penting, dan
menarik di surat kabar, majalah, ataupun internet, untuk kemudian kita
coba ceritakan kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik
dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk ucapan. Kita bisa juga
membaca dan mempelajari contoh surat, proposal, brosur yang sering
kita temui dalam melakukan pekerjaan kita. Untuk mencoba memahami
suatu konsep abstrak, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk visual:
”flow chart”, tabel, ataupun bentuk-bentuk visual lainnya.
”Kinesthetic learners”. Jika kita lebih suka belajar dengan melakukan
sesuatu atau bergerak, maka kita bisa belajar dengan menggunakan
komputer (di mana kita harus menekan tombol di keyboard, atau mouse),
sehingga kita tidak cepat bosan. Kita bisa juga bergabung dengan
perkumpulan-perkumpulan bahasa Inggris (English Club) yang memiliki
banyak kegiatan dan permainan yang melibatkan gerakan. Yang juga bisa
kita lakukan adalah belajar dengan menulis (menggerakkan tangan untuk
menulis), atau mencoba memahami sebuah kata atau ungkapan dengan
membayangkan gerakan yang bisa diasosiasikan dengan arti kata-kata
tersebut.
Setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar (misalnya auditory
dan visual, atau visual dan kinesthetic). Apa pun gaya belajar kita, jika
kita sudah mengenalnya, bisa kita cari dan terapkan strategi belajar yang
disesuaikan dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.
BELAJAR SECARA ”ON-LINE”, GRATIS
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk belajar bahasa Inggris.
Salah satunya adalah dengan belajar secara on-line. Berikut adalah situs
di web yang bisa membantu Anda untuk belajar ataupun berkonsultasi
dalam meningkatkan kemampuan Anda berbahasa Inggris, tanpa biaya
(free-of-charge).
• ESL go
ESL go.com menawarkan free online classes dan message boards yang
dapat digunakan peserta untuk melatih grammar dan kosa kata.
http://www.eslgo.com/
• Bell English Online
Pelajaran bahasa Inggris yang bebas biaya dari Bell Schools, UK. Bell
English online menawarkan ratusan latihan dang permainan untuk
meningkatkan bahasa Inggris. http://www.bellenglish.com
• english @ home
Belajar bahasa Inggris gratis melalui newsletter, tips belajar, dan tips
meningkatkan pengetahuan grammar, dan vocabulary dalam bahasa
Inggris. http://www.english-at-home.com
• English for Free
Pelajaran bahasa Inggris gratis melalui email mengenai berbagai pokok
bahasan termasuk Business English dan TOEFL.
http://www.englishforfree.com
• ENGLISHonline.net
ENGLISHonline.net menawarkan pelajaran gratis mengenai percakapan
dalam bahasa Inggris (satu pelajaran untuk satu hari).
http://www.englishonline.net
• Business English Five
Menawarkan lima kata, ataupun lima kalimat dalam bahasa Inggris untuk
bisnis yang dikirimkan ke alamat email Anda setiap minggu untuk Anda
pelajari. Permintaan bisa diajukan ke edpro@cbn.net.id.
Asal ada kemauan, pasti ada jalan, begitu kata pepatah. Setelah
mengetahui prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif (yang juga bisa
kita terapkan untuk belajar bahasa asing lain, ataupun belajar pokok
pelajaran lain), dan mengenal gaya belajar kita masing-masing, langkah
berikutnya adalah menumbuhkan kemauan untuk belajar dan
menerapkan strategi belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita. Maka,
belajar pun jadi lebih mudah, dan lebih menyenangkan. Good luck!n
Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar ini
terbentuk dari lingkungan dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita
mengenal gaya belajar kita, maka kita bisa memilih strategi belajar yang
efektif, yang disesuaikan dengan gaya belajar kita masing-masing.
”Auditory learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar
dengan mendengarkan, maka kita memiliki gaya belajar ”auditory.” Jika
ini gaya belajar kita, maka kita bisa memperbanyak porsi belajar dengan
mendengarkan, misalnya mendengarkan kaset-kaset pelajaran bahasa
Inggris, lagu-lagu favorit kita, ataupun berita, pidato dalam bahasa
Inggris. Kita juga bisa mendengarkan percakapan-percakapan dalam
bahasa Inggris di film-film favorit yang kita tonton di bioskop, televisi,
ataupun VCD. Dengarkan ucapan, ungkapan yang digunakan, perhatikan
konteks ataupun situasi di mana kata-kata ataupun ungkapan tersebut
digunakan. Lakukan hal ini berulang-ulang maka kita akan bertemu
dengan ungkapan serupa yang dapat kita latih secara berkala, sehingga
kita bisa makin mahir mengucapkan dan menggunakannya.
”Visual learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar
melalui input visual (gambar, tulisan), maka kita memiliki gaya belajar
”visual”. Banyak sekali strategi yang bisa kita lakukan. Kita bisa membaca
artikel-artikel dalam bahasa Inggris yang kita anggap penting, dan
menarik di surat kabar, majalah, ataupun internet, untuk kemudian kita
coba ceritakan kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik
dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk ucapan. Kita bisa juga
membaca dan mempelajari contoh surat, proposal, brosur yang sering
kita temui dalam melakukan pekerjaan kita. Untuk mencoba memahami
suatu konsep abstrak, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk visual:
”flow chart”, tabel, ataupun bentuk-bentuk visual lainnya.
”Kinesthetic learners”. Jika kita lebih suka belajar dengan melakukan
sesuatu atau bergerak, maka kita bisa belajar dengan menggunakan
komputer (di mana kita harus menekan tombol di keyboard, atau mouse),
sehingga kita tidak cepat bosan. Kita bisa juga bergabung dengan
perkumpulan-perkumpulan bahasa Inggris (English Club) yang memiliki
banyak kegiatan dan permainan yang melibatkan gerakan. Yang juga bisa
kita lakukan adalah belajar dengan menulis (menggerakkan tangan untuk
menulis), atau mencoba memahami sebuah kata atau ungkapan dengan
membayangkan gerakan yang bisa diasosiasikan dengan arti kata-kata
tersebut.
Setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar (misalnya auditory
dan visual, atau visual dan kinesthetic). Apa pun gaya belajar kita, jika
kita sudah mengenalnya, bisa kita cari dan terapkan strategi belajar yang
disesuaikan dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.
BELAJAR SECARA ”ON-LINE”, GRATIS
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk belajar bahasa Inggris.
Salah satunya adalah dengan belajar secara on-line. Berikut adalah situs
di web yang bisa membantu Anda untuk belajar ataupun berkonsultasi
dalam meningkatkan kemampuan Anda berbahasa Inggris, tanpa biaya
(free-of-charge).
• ESL go
ESL go.com menawarkan free online classes dan message boards yang
dapat digunakan peserta untuk melatih grammar dan kosa kata.
http://www.eslgo.com/
• Bell English Online
Pelajaran bahasa Inggris yang bebas biaya dari Bell Schools, UK. Bell
English online menawarkan ratusan latihan dang permainan untuk
meningkatkan bahasa Inggris. http://www.bellenglish.com
• english @ home
Belajar bahasa Inggris gratis melalui newsletter, tips belajar, dan tips
meningkatkan pengetahuan grammar, dan vocabulary dalam bahasa
Inggris. http://www.english-at-home.com
• English for Free
Pelajaran bahasa Inggris gratis melalui email mengenai berbagai pokok
bahasan termasuk Business English dan TOEFL.
http://www.englishforfree.com
• ENGLISHonline.net
ENGLISHonline.net menawarkan pelajaran gratis mengenai percakapan
dalam bahasa Inggris (satu pelajaran untuk satu hari).
http://www.englishonline.net
• Business English Five
Menawarkan lima kata, ataupun lima kalimat dalam bahasa Inggris untuk
bisnis yang dikirimkan ke alamat email Anda setiap minggu untuk Anda
pelajari. Permintaan bisa diajukan ke edpro@cbn.net.id.
Asal ada kemauan, pasti ada jalan, begitu kata pepatah. Setelah
mengetahui prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif (yang juga bisa
kita terapkan untuk belajar bahasa asing lain, ataupun belajar pokok
pelajaran lain), dan mengenal gaya belajar kita masing-masing, langkah
berikutnya adalah menumbuhkan kemauan untuk belajar dan
menerapkan strategi belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita. Maka,
belajar pun jadi lebih mudah, dan lebih menyenangkan. Good luck!n
KISAH BUDHA ( AGAMA BUDHA)
Gautama Buddha nama aslinya pangeran Siddhartha pendiri Agama Buddha, salah satu dari agama terbesar di dunia. Putra raja Kapilavastu, timur laut India. berbatasan dengan Nepal. Siddhartha sendiri (marga Gautama dari suku Sakya) konon lahir di Lumbini yang kini termasuk wilayah negara Nepal. Kawin pada umur enam belas tahun dengan sepupunya yang sebaya. Dibesarkan di dalam istana mewah, pangeran Siddhartha tak betah dengan hidup enak berleha-leha, dan dirundung rasa tidak puas yang amat. Dari jendela istana yang gemerlapan dia menjenguk ke luar dan tampak olehnya orang-orang miskin terkapar di jalan-jalan, makan pagi sore tidak, atau tidak mampu makan sama sekali. Hari demi hari mengejar kebutuhan hidup yang tak kunjung terjangkau bagai seikat gandum di gantung di moncong keledai. Tarolah itu yang gembel. Sedangkan yang berpunya pun sering kehinggapan rasa tak puas, waswas gelisah, kecewa dan murung karena dihantui serba penyakit yang setiap waktu menyeretnya ke liang lahat. Siddhartha berpikir, keadaan ini mesti dirobah. Mesti terwujud makna hidup dalam arti kata yang sesungguhnya, dan bukan sekedar kesenangan yang bersifat sementara yang senantiasa dibayangi dengan penderitaan dan kematian.
Tatkala berumur dua puluh sembilan tahun, tak lama sesudah putra pertamanya lahir, Gautama mengambil keputusan dia mesti meninggalkan kehidupan istananya dan mengharnbakan diri kepada upaya mencari kebenaran sejati yang bukan sepuhan. Berpikir bukan sekedar berpikir, melainkan bertindak. Dengan lenggang kangkung dia tinggalkan istana, tanpa membawa serta anak-bini, tanpa membawa barang dan harta apa pun, dan menjadi gelandangan dengan tidak sepeser pun di kantong. Langkah pertama, untuk sementara waktu, dia menuntut ilmu dari orang-orang bijak yang ada saat itu dan sesudah merasa cukup mengantongi ilmu pengetahuan, dia sampai pada tingkat kesimpulan pemecahan masalah ketidakpuasan manusia.
Umum beranggapan, bertapa itu jalan menuju kearifan sejati. Atas dasar anggapan itu Gautama mencoba menjadi seorang pertapa, bertahun-tahun puasa serta menahan nafsu sehebat-hebatnya. Akhirnya dia sadar laku menyiksa diri ujung-ujungnya cuma mengaburkan pikiran, dan bukannya malah menuntun lebih dekat kepada kebenaran sejati. Pikir punya pikir, dia putuskan mendingan makan saja seperti layaknya manusia normal dan stop bertapa segala macam karena perbuatan itu bukan saja tidak ada gunanya melainkan bisa bikin badan kerempeng, loyo, mata kunang-kunang, ngantuk, linu, bahkan juga mendekati bego.
Dalam kesendirian yang tenang tenteram dia bergumul dengan perikehidupan problem manusiawi. Akhirnya pada suatu malam, ketika dia sedang duduk di bawah sebuah pohon berdaun lebar dan berbuahkan semacarn bentuk buah pir yang sarat biji segala macam, maka berdatanganlah teka-teki masalah hidup seakan berjatuhan menimpanya. Semalam suntuk Siddhartha merenung dalam-dalam dan ketika mentari merekah di ufuk timur dia tersentak dan berbarengan yakin bahwa terpecahkan sudah persoalan yang rumit dan dia pun mulai saat itu menyebut dirinya Buddha "orang yang diberi penerangan."
Pada saat itu umurnya menginjak tiga puluh lima tahun. Sisa umurnya yang empat puluh lima tahun dipergunakannya berkelana sepanjang India bagian utara, menyebarkan filosofi barunya di depan khalayak siapa saja yang sudi mendengarkan. Saat dia wafat, tahun 483 sebelum Masehi, sudah ratusan ribu pemeluk ajarannya. Meskipun ucapan-ucapannya masih belum ditulis orang tapi petuah-petuahnya dihafal oleh banyak pengikutnya di luar kepala, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat mulut semata.
Pokok ajaran Buddha dapat diringkas di dalam apa yang menurut istilah penganutnya "Empat kebajikan kebenaran:" pertama, kehidupan manusia itu pada dasarnya tidak bahagia; kedua, sebab-musabab ketidakbahagiaan ini adalah memikirkan kepentingan diri sendiri serta terbelenggu oleh nafsu; ketiga, pemikiran kepentingan diri sendiri dan nafsu dapat ditekan habis bilamana segala nafsu dan hasrat dapat ditiadakan, dalam ajaran Buddha disebut nirvana; keempat, menimbang benar, berpikir benar, berbicara benar, berbuat benar, cari nafkah benar, berusaha benar, mengingat benar, meditasi benar. Dapat ditarnbahkan Agama Buddha itu terbuka buat siapa saja, tak peduli dari ras apa pun dia, (ini yang membedakannya dengan Agama Hindu).
Beberapa saat sesudah Gautama wafat agama baru ini merambat pelan. Pada abad ke-3 sebelum Masehi, seorang kaisar India yang besar kuasa bernama Asoka menjadi pemeluk Agama Buddha. Berkat dukungannya, penyebaran Agama Buddha melesat deras, bukan saja di India tapi juga di Birma. Dari sini agarna itu menjalar ke seluruh Asia Tenggara, ke Malaysia dan Indonesia.
Angin penyebaran pengaruh itu bukan cuma bertiup ke selatan melainkan juga ke utara, menerobos masuk Tibet, ke Afghanistan dan Asia Tengah. Tidak sampai situ. Dia mengambah Cina dan merenggut pengaruh yang bukan buatan besarnya dan dari sana menyeberang ke Jepang dan Korea.
Sedangkan di India sendiri agama baru itu mulai menurun pengaruhnya sesudah sekitar tahun 500 Masehi malahan nyaris punah di tahun 1200. Sebaliknya di Cina dan di Jepang, Agama Buddha tetap bertahan sebagai agama pokok. Begitu pula di Tibet dan Asia Tenggara agama itu mengalami masa jayanya berabad-abad.
Ajaran-ajaran Buddha tidak tertulis hingga berabad-abad sesudah wafatnya Gautama. Karena itu mudahlah dimaklumi mengapa Agama itu terpecah-pecah ke dalam pelbagai sekte. Dua cabang besar Agama Buddha adalah cabang Theravada-pengaruhnya terutama di Asia Tenggara dan menurut anggapan sebagian besar sarjana-sarjana Barat cabang inilah yang paling mendekati ajaran-ajaran Buddha yang asli-. Cabang lainnya adalah Mahayana, bobot pengaruhnya terletak di Tibet, Cina dan juga di Asia Tenggara secara umum.
Buddha, selaku pendiri salah satu agama terbesar di dunia, jelas layak menduduki urutan tingkat hampir teratas dalam daftar buku ini. Karena jumlah pemeluk Agama Buddha tinggal 200 juta dibanding dengan pemeluk Agama Islam yang 500 juta banyaknya dan satu milyar pemeluk Agama Nasrani, dengan sendirinya pengaruh Buddha lebih kecil ketimbang Muhammad atau Isa. Akan tetapi, beda jumlah penganut -jika dijadikan ukuran yang keliwat ketat- bisa juga menyesatkan. Misalnya, matinya atau merosotnya Agama Buddha di India bukan merosot sembarang merosot melainkan karena Agama Hindu sudah menyerap banyak ajaran dan prinsip-prinsip Buddha ke dalam tubuhnya. Di Cina pun, sejumlah besar penduduk yang tidak lagi terang-terangan menyebut dirinya penganut Buddha dalam praktek kehidupan sehari-hari sebenarnya amat di pengaruhi oleh filosofi agama.
Agama Buddha, jauh mengungguli baik Islam maupun Nasrani, punya anasir pacifis yang amat menonjol. Pandangan yang berpangkal pada tanpa kekerasan ini memainkan peranan penting dalam sejarah politik negara-negara berpenganut Buddha.
Banyak orang bilang bila suatu saat kelak Isa turun kembali ke bumi dia akan melongo kaget melihat segala apa yang dilakukan orang atas namanya, dan akan cemas atas pertumpahan darah yang terjadi dalam pertentangan antar sekte yang saling berbeda pendapat yang sama-sama mengaku jadi pengikutnya. Begitu juga akan terjadi pada diri Buddha. Dia tak bisa tidak akan ternganga-nganga menyaksikan begitu banyaknya sekte-sekte Agama Buddha yang bertumbuhan di mana-mana, saling berbeda satu sama lain walau semuanya mengaku pemeluk Buddha. Narnun, bagaimanapun semrawutnya sekte-sekte yang saling berbeda itu tidaklah sarnpai menimbulkan perang agama berdarah seperti terjadi di dunia Kristen Eropa. Dalam hubungan ini, paling sedikit berarti ajaran Buddha tampak jauh mendalam dihayati oleh pemeluknya ketimbang ajaran-ajaran Isa dalarn kaitan yang sama.
Buddha dan Kong Hu-Cu kira-kira punya pengaruh setaraf terhadap dunia. Keduanya hidup di kurun waktu yang hampir bersamaan, dan jumlah pengikutnya pun tak jauh beda. Pilihan saya menempatkan nama Buddha lebih dulu daripada Kong Hu-Cu dalam urutan disandarkan atas dua pertimbangan: pertama, perkembangan Komunisme di Cina nyaris menyapu habis pengaruh Kong Hu -Cu, sedangkan tampaknya masa depan Buddha masih lebih banyak celah dan pengaruh ketimbang dalam Kong Hu-Cu; kedua, kegagalan ajaran Kong Hu-Cu menyebar luas ke luar batas Cina menunjukkan betapa erat taut bertautnya ajaran Kong Hu-Cu dengan sikap dan tata cara jaman Cina lama. Sebaliknya, ajaran Buddha tak ada mengandung pernyataan ulangan atau mengunyah-ngunyah filosofi India terdahulu, dan Agama Buddha menyebar melangkah batas pekarangan negerinya -India- bersandarkan gagasan tulen Gautama serta jangkauan luas filosofinya.
Tatkala berumur dua puluh sembilan tahun, tak lama sesudah putra pertamanya lahir, Gautama mengambil keputusan dia mesti meninggalkan kehidupan istananya dan mengharnbakan diri kepada upaya mencari kebenaran sejati yang bukan sepuhan. Berpikir bukan sekedar berpikir, melainkan bertindak. Dengan lenggang kangkung dia tinggalkan istana, tanpa membawa serta anak-bini, tanpa membawa barang dan harta apa pun, dan menjadi gelandangan dengan tidak sepeser pun di kantong. Langkah pertama, untuk sementara waktu, dia menuntut ilmu dari orang-orang bijak yang ada saat itu dan sesudah merasa cukup mengantongi ilmu pengetahuan, dia sampai pada tingkat kesimpulan pemecahan masalah ketidakpuasan manusia.
Umum beranggapan, bertapa itu jalan menuju kearifan sejati. Atas dasar anggapan itu Gautama mencoba menjadi seorang pertapa, bertahun-tahun puasa serta menahan nafsu sehebat-hebatnya. Akhirnya dia sadar laku menyiksa diri ujung-ujungnya cuma mengaburkan pikiran, dan bukannya malah menuntun lebih dekat kepada kebenaran sejati. Pikir punya pikir, dia putuskan mendingan makan saja seperti layaknya manusia normal dan stop bertapa segala macam karena perbuatan itu bukan saja tidak ada gunanya melainkan bisa bikin badan kerempeng, loyo, mata kunang-kunang, ngantuk, linu, bahkan juga mendekati bego.
Dalam kesendirian yang tenang tenteram dia bergumul dengan perikehidupan problem manusiawi. Akhirnya pada suatu malam, ketika dia sedang duduk di bawah sebuah pohon berdaun lebar dan berbuahkan semacarn bentuk buah pir yang sarat biji segala macam, maka berdatanganlah teka-teki masalah hidup seakan berjatuhan menimpanya. Semalam suntuk Siddhartha merenung dalam-dalam dan ketika mentari merekah di ufuk timur dia tersentak dan berbarengan yakin bahwa terpecahkan sudah persoalan yang rumit dan dia pun mulai saat itu menyebut dirinya Buddha "orang yang diberi penerangan."
Pada saat itu umurnya menginjak tiga puluh lima tahun. Sisa umurnya yang empat puluh lima tahun dipergunakannya berkelana sepanjang India bagian utara, menyebarkan filosofi barunya di depan khalayak siapa saja yang sudi mendengarkan. Saat dia wafat, tahun 483 sebelum Masehi, sudah ratusan ribu pemeluk ajarannya. Meskipun ucapan-ucapannya masih belum ditulis orang tapi petuah-petuahnya dihafal oleh banyak pengikutnya di luar kepala, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat mulut semata.
Pokok ajaran Buddha dapat diringkas di dalam apa yang menurut istilah penganutnya "Empat kebajikan kebenaran:" pertama, kehidupan manusia itu pada dasarnya tidak bahagia; kedua, sebab-musabab ketidakbahagiaan ini adalah memikirkan kepentingan diri sendiri serta terbelenggu oleh nafsu; ketiga, pemikiran kepentingan diri sendiri dan nafsu dapat ditekan habis bilamana segala nafsu dan hasrat dapat ditiadakan, dalam ajaran Buddha disebut nirvana; keempat, menimbang benar, berpikir benar, berbicara benar, berbuat benar, cari nafkah benar, berusaha benar, mengingat benar, meditasi benar. Dapat ditarnbahkan Agama Buddha itu terbuka buat siapa saja, tak peduli dari ras apa pun dia, (ini yang membedakannya dengan Agama Hindu).
Beberapa saat sesudah Gautama wafat agama baru ini merambat pelan. Pada abad ke-3 sebelum Masehi, seorang kaisar India yang besar kuasa bernama Asoka menjadi pemeluk Agama Buddha. Berkat dukungannya, penyebaran Agama Buddha melesat deras, bukan saja di India tapi juga di Birma. Dari sini agarna itu menjalar ke seluruh Asia Tenggara, ke Malaysia dan Indonesia.
Angin penyebaran pengaruh itu bukan cuma bertiup ke selatan melainkan juga ke utara, menerobos masuk Tibet, ke Afghanistan dan Asia Tengah. Tidak sampai situ. Dia mengambah Cina dan merenggut pengaruh yang bukan buatan besarnya dan dari sana menyeberang ke Jepang dan Korea.
Sedangkan di India sendiri agama baru itu mulai menurun pengaruhnya sesudah sekitar tahun 500 Masehi malahan nyaris punah di tahun 1200. Sebaliknya di Cina dan di Jepang, Agama Buddha tetap bertahan sebagai agama pokok. Begitu pula di Tibet dan Asia Tenggara agama itu mengalami masa jayanya berabad-abad.
Ajaran-ajaran Buddha tidak tertulis hingga berabad-abad sesudah wafatnya Gautama. Karena itu mudahlah dimaklumi mengapa Agama itu terpecah-pecah ke dalam pelbagai sekte. Dua cabang besar Agama Buddha adalah cabang Theravada-pengaruhnya terutama di Asia Tenggara dan menurut anggapan sebagian besar sarjana-sarjana Barat cabang inilah yang paling mendekati ajaran-ajaran Buddha yang asli-. Cabang lainnya adalah Mahayana, bobot pengaruhnya terletak di Tibet, Cina dan juga di Asia Tenggara secara umum.
Buddha, selaku pendiri salah satu agama terbesar di dunia, jelas layak menduduki urutan tingkat hampir teratas dalam daftar buku ini. Karena jumlah pemeluk Agama Buddha tinggal 200 juta dibanding dengan pemeluk Agama Islam yang 500 juta banyaknya dan satu milyar pemeluk Agama Nasrani, dengan sendirinya pengaruh Buddha lebih kecil ketimbang Muhammad atau Isa. Akan tetapi, beda jumlah penganut -jika dijadikan ukuran yang keliwat ketat- bisa juga menyesatkan. Misalnya, matinya atau merosotnya Agama Buddha di India bukan merosot sembarang merosot melainkan karena Agama Hindu sudah menyerap banyak ajaran dan prinsip-prinsip Buddha ke dalam tubuhnya. Di Cina pun, sejumlah besar penduduk yang tidak lagi terang-terangan menyebut dirinya penganut Buddha dalam praktek kehidupan sehari-hari sebenarnya amat di pengaruhi oleh filosofi agama.
Agama Buddha, jauh mengungguli baik Islam maupun Nasrani, punya anasir pacifis yang amat menonjol. Pandangan yang berpangkal pada tanpa kekerasan ini memainkan peranan penting dalam sejarah politik negara-negara berpenganut Buddha.
Banyak orang bilang bila suatu saat kelak Isa turun kembali ke bumi dia akan melongo kaget melihat segala apa yang dilakukan orang atas namanya, dan akan cemas atas pertumpahan darah yang terjadi dalam pertentangan antar sekte yang saling berbeda pendapat yang sama-sama mengaku jadi pengikutnya. Begitu juga akan terjadi pada diri Buddha. Dia tak bisa tidak akan ternganga-nganga menyaksikan begitu banyaknya sekte-sekte Agama Buddha yang bertumbuhan di mana-mana, saling berbeda satu sama lain walau semuanya mengaku pemeluk Buddha. Narnun, bagaimanapun semrawutnya sekte-sekte yang saling berbeda itu tidaklah sarnpai menimbulkan perang agama berdarah seperti terjadi di dunia Kristen Eropa. Dalam hubungan ini, paling sedikit berarti ajaran Buddha tampak jauh mendalam dihayati oleh pemeluknya ketimbang ajaran-ajaran Isa dalarn kaitan yang sama.
Buddha dan Kong Hu-Cu kira-kira punya pengaruh setaraf terhadap dunia. Keduanya hidup di kurun waktu yang hampir bersamaan, dan jumlah pengikutnya pun tak jauh beda. Pilihan saya menempatkan nama Buddha lebih dulu daripada Kong Hu-Cu dalam urutan disandarkan atas dua pertimbangan: pertama, perkembangan Komunisme di Cina nyaris menyapu habis pengaruh Kong Hu -Cu, sedangkan tampaknya masa depan Buddha masih lebih banyak celah dan pengaruh ketimbang dalam Kong Hu-Cu; kedua, kegagalan ajaran Kong Hu-Cu menyebar luas ke luar batas Cina menunjukkan betapa erat taut bertautnya ajaran Kong Hu-Cu dengan sikap dan tata cara jaman Cina lama. Sebaliknya, ajaran Buddha tak ada mengandung pernyataan ulangan atau mengunyah-ngunyah filosofi India terdahulu, dan Agama Buddha menyebar melangkah batas pekarangan negerinya -India- bersandarkan gagasan tulen Gautama serta jangkauan luas filosofinya.
Langganan:
Postingan (Atom)


